Informasi resmi terkait seleksi TFL tahun anggaran 2020 hanya dari web portal PLPBM  |   klik tautan berikut untuk memeriksa kelengkapan dokumen/data perihal seleksi TFL 2020  |   Silahkan download materi bimbingan teknis Sanitasi Perdesaan Padat Karya TA 2019 disini | Pengiriman Berita/Artikel/Kisah Sukses ke email publikasi.plpbm@gmail.com

Yuuk berinovasi teknologi SPALD-T Sanimas IsDB

Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) merupakan teknologi yang diterapkan dalam Program Sanimas IsDB dalam rangka meningkatkan kualitas sanitasi air limbah rumah tangga sehingga air limbah tersebut aman untuk dibuang ke lingkungan atau bahkan di manfaatkan kembali.

Sistem pengolahan air limbah yang diterapkan merupakan sistem pengolahan anaerobik yang berdasarkan pengalaman dan realitas mampu menurunkan kandungan pencemar seperti BOD, COD dimana angka baku mutunya rata-rata masih di bawah baku mutu yang ditetapkan (Permen LHK No. 68 tahun 2016 Tentang baku Mutu Air Limbah Domestik). Artinya SPALD-T dalam Program Sanimas IsDB mempunyai keefektifan dalam meminimalisasi angka pencemaran terhadap air permukaan. Hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri, namun untuk mempertahankan kondisi tersebut butuh keseriusan dalam pengelolaan dan pemeliharaan IPAL yang sudah terbangun.

Ironisnya yang sering dijumpai adalah minimnya pemeliharaan sarana sanitasi terbangun sehingga menjadi ancaman terhadap kualitas air limbah yang di olah dalam IPAL. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama baik KPP sebagai pemanfaat program maupun unsur Pemerintah Daerah dalam mendukung dan memfasilitasi kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan sarana.

SPALD-T merupakan sistem pengolahan air limbah sederhana dengan konsep pengaliran secara gravitasi baik dalam pengaliran air limbah melalui pemipaan maupun pengaliran air limbah dalam proses IPAL. Dalam perencanaannya di desain air limbah yang diproses dalam IPAL hanya membutuhkan waktu 1 hari dengan batasan air limbah yang masuk ke IPAL bebas dari sampah padat. Air limbah akan terproses secara anaerobik melalui proses pengendapan dan penyaringan oleh media filter. Proses tersebut harus dijaga kontinuitasnya sehingga tidak terganggu pengalirannya oleh zat padat.

Seringkali kondisi tidak sesuai dengan harapan sehingga proses pengolahan menjadi kurang efektif lagi dimana zat organik sangat tinggi dan membebani kemampuan proses pengendapan dan kontak air limbah dalam media filter. Sebagai akibatnya air limbah yang diolah akan menurun kualitasnya. Ada beberapa sistem pengolahan yang dapat diterapkan untuk mengatasi kondisi tersebut selain upaya pemeliharaan, salah satunya yaitu teknologi tanam tanaman air (Constructed Wetland). Dengan mengoptimalkan teknologi pengolahan tersebut mampu meningkatkan kualitas hasil pengolahan air limbah.

 

Wetland sebagai inovasi

Wetland adalah salah satu rekayasa sistem pengolah limbah yang dirancang dan dibangun dengan melibatkan tanaman air, tanah atau media lain yang dapat diterapkan pada halaman sempit. Dalam desain Wetland terdapat dua type yaitu bentuk taman dan kolam dengan pola aliran horizontal dan aliran vertikal.

Untuk meningkatkan kinerja Wetland, selain memanfaatkan beberapa jenis tanaman air, dengan variasi media seperti kerikil, dan botol bekas air mineral (pets)  dapat dimanfaatkan sebagai media tanam untuk menambah ruang gerak pada sistim perakaran tanaman.

 

Keunggulan Sistem Wetland

  • Air buangan yang masuk ke wetland akan mengalami proses penguraian zat organik pencemar sehingga output limbah sudah aman untuk di salurkan ke drainase / sungai
  • Tidak mencemari air tanah / air permukaan
  • Efisiensi pengolahan 60 – 80 %
  • Mudah dalam pemeliharaan
  • Konstruksi dari pasangan batubata atau beton bertulang sehingga investasi murah
  • Lahan yang dibutuhkan sedikit
  • Diperlukan pencucian/ganti media filter setiap 4 – 8 tahun sekali
  • Unit Pengolahan limbah yang estetis.

 

Konsep Perencanaan Wetland

Beberapa ketentuan yang diperlukan untuk membuat sistem ini yaitu:

  • Unit wetland harus didahului dengan bak pengendap untuk menghindari cloging pada media koral oleh partikel-partikel besar.
  • Konstruksi berupa bak/kolam dr pasangan batu kedap air dengan kedalaman ± 1 m.
  • Kolam dilengkapi pipa inlet dan pipa berlubang untuk outlet.
  • Kolam diisi dengan media koral (batu pecah atau kerikil) diameter 5 mm s/d 10 mm. setinggi/setebal 80 cm.
  • Ditanami tumbuhan air dicampur beberapa jenis yang berjarak cukup rapat, dengan melubangi lapisan media koral sedalam 40 cm untuk dudukan tumbuhan.
  • Dialirkan air limbah setebal 70 cm dengan mengatur level (ketinggian) outlet yang memungkinkan media selalu tergenang air 10 cm dibawah permukaan koral.
  • Disain luas kolam berdasarkan Beban BOD yang masuk per hari dibagi dengan Loading rate pada umumnya. Untuk daerah tropis kira-kira = 40 kg BOD/Ha per hari.

 

Jenis Tanaman yang digunakan untuk Wetland

Jenis-jenis tanaman yang sering digunakan di Fitoremediasi adalah; Anturium Merah/Kuning, Alamanda Kuning/Ungu, Akar Wangi, Bambu Air, Cana Presiden Merah/Kuning/Putih, Dahlia, Dracenia Merah/Hijau, Heleconia Kuning/Merah, Jaka, Keladi Loreng/Sente/Hitam, Kenyeri Merah/Putih, Lotus Kuning/Merah, Onje Merah, Pacing Merah/Putih, Padi-padian, Papirus, Pisang Mas, Ponaderia, Sempol Merah/Putih, Spider Lili, dll.

0 Komentar

Tulis Komentar

Kirim Komentar