Informasi resmi terkait seleksi TFL tahun anggaran 2021 hanya dari web portal IBM SANITASI  |   Pengiriman Berita/Artikel/Kisah Sukses ke email publikasi.plpbm@gmail.com

Tantangan Pekerjaan Galian SPALD-T di Wilayah Bekas Tambang Intan

BANJARBARU, plpbm.pu.go.id – Hujan deras yang mengguyur sepanjang hari di sebagian wilayah Kalimantan Selatan, menyebabkan galian SPALD-T di Desa Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru mengalami longsor dan terisi genangan air. Galian SPALD-T yang sudah mencapai kedalaman dua meter harus dibenahi dan ditata ulang untuk dapat melanjutkan pekerjaan. Berbagai metode diterapkan agar pergerakan tanah bisa teratasi. Peletakan penahan kuat pada bagian dinding galian SPALD-T dilakukan secara menyeluruh untuk mencegah terjadinya longsor susulan.

Untuk dapat melanjutkan pembangunan sarana dan prasarana sanitasi sesuai dengan target waktu yang direncanakan, KSM menerapkan berbagai macam metode untuk memperkuat galian. Galian SPALD-T dimodifikasi dengan melakukan berbagai cara, antara lain:

1. Penggalian tanah SPALD-T yang dilakukan secara miring dan menerapkan sistem trap,

2. Penggalian SPALD-T dikerjakan lebih lebar satu meter dari rencana awal

3. Pemasangan dinding penahan tanah dari Kayu Galam dan juga Kayu Ulin yang ditancapkan dalam-dalam sehingga dapat menahan pergerakan tanah yang labil.

Karena longsor yang terus terjadi, galian SPALD-T yang seharusnya memiliki kedalaman 3,4 meter terpaksa dimodifikasi kedalamannya menjadi 3,2 meter. Kayu Ulin yang merupakan kayu khas Kalimantan dengan karakter yang kuat dan kokoh diprioritaskan menjadi alat penahan tanah galian SPALD-T yang ada. Kayu Ulin menjadi media penahan dinding-dinding galian, agar tanah tidak lagi bergerak dan longsor menutupi galian SPALD-T. Setelah sebelumnya kekuatan Kayu Galam tidak dapat menahan pergerakan tanah disekitar galian tersebut. Kendala penggalian lainnya terjadi karena adanya sumber batubara muda yang terdapat di bawah galian, proses penggalian menjadi sulit dilakukan secara manual untuk mencapai target kedalaman yang diinginkan.

Program Sanimas Reguler di wilayah tersebut hampir saja dibatalkan oleh pihak terkait karena kondisi alam yang kurang mendukung. Keadaan tanah yang terus bergerak menekan galian SPALD-T, hingga mengarah dan mendekati rumah warga. Harapan untuk melanjutkan pekerjaan hampir saja sirna karena keadaan tersebut. Pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan dalam waktu dua minggu, mundur selama 35 hari untuk mengatasi masalah yang dihadapi, dengan melakukan berbagai metode penguatan galian. Pada akhirnya KSM dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi dan melanjutkan pekerjaan SPALD-T, seiring dengan berkurangnya intensitas curah hujan di wilayah tersebut.

Bekas galian tambang intan yang banyak terdapat di wilayah Kota Banjarbaru menyisakan masalah yang besar pada lahan yang tersisa. Semestinya, wilayah bekas galian tambang ditangani secara tepat oleh pihak berwenang, agar tidak menimbulkan permasalahan di wilayah yang menjadi tempat tinggal penduduk. Penguatan tanah urugan seharusnya dilakukan secara sempurna agar tidak menimbulkan permasalahan besar di kemudian hari, seperti yang dialami pada proses pembuatan SPALD-T Program Sanimas Reguler.

Ketertinggalan waktu pengerjaan sehingga tidak sesuai rencana, diantisipasi oleh KSM dan Fasilitator Provinsi dengan mengkonsultasikannya kepada berbagai pihak terkait. Semangat masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat menjadi semangat utama dalam menghadirkan sarana dan prasana sanitasi di lingkungan tersebut. Kerja paralel menjadi salah satu cara yang juga ditempuh, sehingga pembangunan SPALD-T dapat diselesaikan lebih cepat. Percepatan pembangunan sarana dan prasarana sanitasi yang ada, diharapkan juga dapat mempercepat fungsi dan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat. (Adv. Sanreg Wiltim/pub.ibm)

0 Komentar

Tulis Komentar

Kirim Komentar