Informasi resmi terkait seleksi TFL tahun anggaran 2020 hanya dari web portal IBM SANITASI  |   klik tautan berikut untuk memeriksa kelengkapan dokumen/data perihal seleksi TFL 2020  |   Silahkan download materi bimbingan teknis Sanitasi Perdesaan Padat Karya TA 2019 disini | Pengiriman Berita/Artikel/Kisah Sukses ke email publikasi.plpbm@gmail.com

Sandes di Kampung Adat Prai Ijing: Pertahankan Kearifan Lokal

SUMBA BARAT, plpbm.pu.go.id – Desa Tebara, Kecamatan Waikabukak, Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu sasaran Sandes TA. 2020. Di desa tersebut terdapat Kampung Adat Prai Ijing yang cukup terkenal dan menjadi lokasi tujuan wisata budaya favorit di dataran Pulau Sumba. Wisatawan yang datang bukan hanya wisatawan lokal tetapi juga mancanegara.

Daya tarik kampung adat Prai Ijing terutama adalah bentuk dan tata letak bangunan rumah adat yang nampak eksotis. Masyarakat di kampung tersebut masih menggunakan rumah adat Sumba atau Uma Bokulu atau Uma Mbatangu, yang merupakan adat tradisi nenek moyang yang telah berusia ratusan tahun, namun masih dipegang teguh hingga kini.

Selain rumah adat, daya tarik Kampung Adat Prai Ijing Waikabubak adalah kerajinan tenun tradisional yang dikerjakan para perempuan desa. Kain tenun khas Sumba yang dibuat itu, selain dipakai sehari-hari dan untuk upacara adat, juga dijual sebagai cenderamata. Para pengrajin kain tenun di desa tersebut biasanya menyelesaikan pekerjaan mereka dalam waktu dua pekan sampai dua bulan, tergantung tingkat kesulitan dan motifnya. Dari kerajinan tenun turun temurun itulah masyarakat setempat bisa mendapat penghasilan untuk tetap menjaga perputaran ekonomi masing-masing rumah tangga, hingga desa adat secara keseluruhan.

Kampung Adat Prai Ijing menjadi kampung yang khas dengan menara di atasnya, kubur batu, dan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi leluhur. Bangunan rumah dengan atap menjulang tinggi berbentuk prisma dengan atap berbahan alang-alang. Arsitektur rumah yang khas terdiri dari beberapa tingkat yang bagian bawah biasanya digunakan kandang ternak seperti babi atau ayam. Bagian tengah merupakan tempat tinggal utama serta kegiatan sehari-hari seperti memasak, makan dan tidur. Sedangkan bagian atas sebagai tempat menyimpan bahan makanan seperti padi dan jagung.

Rumah adat Prai Ijing dinamakan Uma Mangu Toko, “Uma” yang berarti rumah, “Mangu” itu punya, dan “Toko” itu Menara. Sehingga bisa diartikan rumah yang memiliki menara. Kampung Adat Prai Ijing ini dibangun atas kepercayaan asli orang Sumba yaitu Marapu. “Ma” artinya “yang”, “rapu” memiliki arti jiwa yang sudah pergi. Saat berkomunikasi dengan Sang Pencipta, masyarakat Sumba merasa tidak pantas secara langsung, tetapi melalui leluhur. Oleh karena itu di depan rumah adat umumnya terdapat kubur batu.

Kampung Adat Prai Ijing menjadi bagian dari wilayah sasaran program Sandes di Desa Tebara, Kecamatan Waikabukak. Hal ini karena sebagian rumah adat belum memiliki prasarana sanitasi yang memadai. Berdasarkan skala prioritas direncanakan dibangun 3 unit bilik toilet dan tangki septik.

Ada hal menarik terkait dengan desain bangunan bilik di Kampung Adat Prai Ijing yakni tidak diperkenankannya menggunakan material metal/logam untuk penutup atapnya. Sebagai bentuk penyesuaian dengan arsitektur rumah adat maka bangunan bilik toilet akan menggunakan bahan penutup atap dari alang-alang kering. Selain menyesuaikan, hal ini tentu menjadi ciri khas tersendiri di Kampung Adat Prai Ijing, yakni mengusung kearifan lokal daerah setempat. (Adv. Sandes Reg. 4/pub.ibm)

0 Komentar

Tulis Komentar

Kirim Komentar