Informasi resmi terkait seleksi TFL tahun anggaran 2020 hanya dari web portal PLPBM  |   klik tautan berikut untuk memeriksa kelengkapan dokumen/data perihal seleksi TFL 2020  |   Silahkan download materi bimbingan teknis Sanitasi Perdesaan Padat Karya TA 2019 disini | Pengiriman Berita/Artikel/Kisah Sukses ke email publikasi.plpbm@gmail.com

Pentingnya Survei Timbulan Sampah

JAKARTA, plpbm.pu.go.id – Berdasarkan SNI 19-2454-2002 tentang Tata cara Pengelolaan Sampah Perkotaan, timbulan sampah adalah banyaknya sampah yang timbul dari masyarakat dalam satuan volume maupun berat per kapita  perhari, atau perluas bangunan, atau perpanjang jalan. Dalam tahap perencanaan TPS 3R, kegiatan survei timbulan sampah wajib dilakukan sebelum menentukan pemilihan teknologi yang akan diterapkan.

Adapun tujuan dari penghitungan timbulan dan komposisi sampah adalah untuk merencanakan proses 3R/daur ulang/pengurangan sampah. Survei timbulan sampah dimaksudkan untuk menentukan kuantitas dan karakteristik sampah di wilayah tersebut. Rata-rata timbulan sampah biasanya akan bervariasi dari hari ke hari, antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Timbulan dan komposisi sampah dapat diukur langsung di lapangan dari sejumlah sampel (rumah tangga dan non-rumah tangga) yang ditentukan secara acak dan proporsional di sumber selama 8 hari berturut-turut (SNI 19-3964-1994). Pada studi timbulan dan komposisi sampah untuk Program TPS 3R, minimal dapat dilakukan sampling dalam 2 hari (sampah di hari libur (Sabtu/Minggu) dan di hari kerja (Senin-Jumat).

Penghitungan potensi timbulan sampah di kawasan permukiman harus memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Berdasarkan standar yang berlaku tentang spesifikasi timbulan sampah;
  2. Data-data hasil kajian dan komparasi terhadap TPS 3R yang sudah operasional;
  3. Hasil kajian lapangan;
  4. Penghitungan timbulan sampah berdasarkan teknik pengambilan sampah berdasarkan standar yang berlaku;
  5. Penghitungan komposisi sampah merencanakan proses 3R/daur ulang/pengurangan sampah.

Metode sampling yang direkomendasikan adalah sampling dari rumah ke rumah. Seluruh sampel yang terkumpul diangkut ke sebuah lokasi, lalu sampah tersebut dituang di peralatan datar dengan alas plastik, dan diaduk agar merata. Timbunan sampah yang dituang tersebut kemudian secara metode kuadran, diambil sebagian membentuk timbunan baru, diaduk, lalu membentuk kuadran lagi.

Sampel tersebut kemudian dipilah berdasarkan komposisi penyusunnya secara detail dengan kategori sebagai berikut:

  1. Sampah organik: sampah makanan, kayu, daun, ranting;
  2. Sampah anorganik daur ulang/potensi daur ulang: kertas dan karton, botol plastik, botol kaca, logam, plastik emberan, plastik kresek, dll;
  3. Sampah anorganik residu: kemasan makanan, styrofoam, kain, karet, tisu, dll; dan
  4. Sampah bahan beracun dan berbahaya (B3) seperti baterai, alat suntik, botol obat nyamuk, alat elektronik, dll. 

Dari hasil penghitungan timbulan sampah, maka akan diperoleh jumlah dan karakteristik sampah yang dihasilkan suatu wilayah tertentu. Data ini kemudian akan menjadi data awal dalam penentuan pemilihan teknologi yang akan diterapkan, penentukan kebutuhan lahan TPS 3R, dan juga penentuan ukuran dimensional bangunan. (pub.ibm)

0 Komentar

Tulis Komentar

Kirim Komentar