Informasi resmi terkait seleksi TFL tahun anggaran 2020 hanya dari web portal PLPBM  |   klik tautan berikut untuk memeriksa kelengkapan dokumen/data perihal seleksi TFL 2020  |   Silahkan download materi bimbingan teknis Sanitasi Perdesaan Padat Karya TA 2019 disini | Pengiriman Berita/Artikel/Kisah Sukses ke email publikasi.plpbm@gmail.com

Pengorbanan Harta Warga Demi Keselamatan Bangsa

Adalah Sulaiman, yang pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang bengkel di Ujung Pacu, Kota Lhokseumawe. Tidak ada yang tidak kenal dengannya di Ujung Pacu, karena selain sebagai mantan Keuchik (Kepala Desa), banyak orang yang akan berhubungan langsung dengannya ketika ada masalah dengan sepeda motor mereka. Profesinya sebagai tukang bengkel mengajarkan sebuah petuah kehidupan bahwa bila sebuah barang sudah rusak maka akan sulit untuk dikembalikan seperti semula. Belum lagi akan banyak biaya yang  dihabiskan untuk hal tersebut, dan itupun belum tentu bisa kembali benar seperti semula. Demikian juga manusia, jika sudah sakit dan terinveksi penyakit, maka akan banyak dana yang dibutuhkan untuk pengobatannya dan belum tentu juga pulih sempurna sebagaimana awal dirinya. Karena itu ”Sehat itu Mahal Harganya”

Sekilas jika dilihat letak gampong Ujung Pacu sangat jauh dari pusat Kota Lhokseumawe. Kondisi tersebut ikut menjadi penyebab kurang tersentuhnya desa dimana sulaiman tinggal dengan program-program pembangunan yang berpihak dan dilakukan langsung oleh masyarakat. Gampong Ujung Pacu  merupakan salah satu desa binaan PT Arun ketika itu karena letak gampong Ujung Pacu yang tidak jauh dengan perusahaan raksasa di Aceh. Sebagai gampong binaan PT Arun banyak hal yang telah mereka dapatkan dalam hal menyelesaikan permasalahan masayarakat. Mereka sangat mendambakan hadirnya program-program yang dapat mengangkat mereka dari lilitan permasalahan, karena hanya melalui bantuan tersebut Gampong Ujung Pacu perlahan kami dapat menolong diri nya sendiri.

Ketika program Sanimas hadir didesa Ujung Pacu, Sulaiman salah seorang yang cukup keras memberikan respon, karena ia sudah tidak mau lagi hanya mendengar ada program yang mau membantu masyarakat, tetapi ujung-ujungnya kosong. Masyarakat menanti dan terus menanti tanpa pasti. Mungkin oleh sebahagian sulaiman saya dianggap orang yang tidak tau aturan, mengacaukan suasana sehingga sebahagian orang malas berkomunikasi dengannya apalagi medengarkan komentarnya. Tapi bagi sulaiman tidak masalah, karena ia akan terus memperjuangkan kepentingan masyarakat untuk bisa berubah kearah yang lebih baik.

Sikap nya yang keras dan dianggap menjengkelkan oleh sebahagian orang  tetap ia pertahankan manakala program Sanimas masuk ke desanya.  Sulaiman pula salah satu warga yang protes habis-habisan ketika sosialisasi dilakukan, walaupun sebenarnya ia tau bahwa ini sangat penting dan sangat ia butuhkan. Tetapi karena pengalaman pahit yang sudah dirasakan selama ini, maka sulaiman perlu antisipasi dengan cara yang biasa ia lakukan....komplain, protes dan entah apa lagi namanya. Sulaiman ingin membuktikan sampai dimana keseriusan program Sanimas IsDB ingin membantu desanya untuk mengatasi masalah sanitasi. 

Situasi yang sulaiman ciptakan ternyata tidak membuat surut tim Sanimas dan  masyarakat Ujung Pacu termaksud BKM. Mereka tetap berusaha menjelaskan kepada warga desa kenapa harus menerima program Sanimas IsDB, dan apa dampak yang akan didapatkan ketika IPAL ini terbangun dimasyarakat. Akhirnya dengan penuh keyakinan, masyarakat menyatakan menerima program Sanimas di desa sulaiman tinggal, dengan harapan akan terbebas dari penyakit. Ini juga yang saya pikirkan kenapa kemudian saya dengan sukarela menghibahkan tanah untuk pembangunan IPAL walaupun mendapat tantangan dari keluarga terutama anak-anak.

Sebagai mantan keuchik (kepala desa) saya tau persis  permasalahan sanitasi yang dialami oleh masyarakat dari waktu ke waktu. Secara umum septi tank yang terdapat didesa kami masih belum sesuai dengan standar, alias masih tradisional. Ditambahlagi jarak Septi Tank ke sumur sangat dekat dengan pondasi tanah. Maka bisa dibayangkan kondisi sumur secara otomatis akan tercemar, dimana oleh masyarakat sumur menjadi satu-satunya untuk pemenuhan kehidupan: minum, masak, cuci dan mandi. Hasilnya dapat dipastikan masyarakat sering terjangkit penyakit kulit, dan juga gatal – gatal.

Kondisi ekonomi masyarakat Ujung Pacu yang sangat kecil dan dibawah rata-rata, mengakibatkan sebahagian masyarakat sering terkedandala dengan pengobatan ketika anggota keluarga mereka mengalami permasalahan kesehatan, termaksud anak-anak. Biaya yang besar dan jarak tempuh yang lumayan jauh dari pusat kota sering sakit hanya disembuhkan dengan ramuan dan berobat ke pukesmas terdekat. Jika permasalahan ini tidak segera diatasi, maka dikhawatirkan generasi masa depan Ujung Pacu menjadi kurang berkualitas. Imbasnya, kemiskinan dan kemelaratan akan kembali menimpa masyarakat Ujung Pacu.

Saya sebagai salah satu orang tua yang juga memiliki anak tentunya tidak menginginkan hal tersebut terjadi bagi generasi kami, masa suram yang kami alami jangan sampai dialami kembali oleh anak-anak kami kedepan. Cukuplah kami yang menderita dan miskin, jangan lagi menimpa anak-anak kami. Kekhawatiran ini akhirnya memantapkan hati saya untuk menghibahkan tanah bagi pembangunan IPAL didesa kami.  Saya berpikir, jika saya tidak mau menghibahkan tanah saya, bisa jadi program Sanimas tidak jadi membangun didesa kami karena ketiadaan lahan, akhirnya Ujung Pacu dari waktu kewaktu terus saja mengalami permasalahan kesehatan, terutama perempuan dan juga anak-anak yang sangat rentan.

Niat baik ini saya sampaikan kepada keluarga, dengan harapan akan mendapatkan dukungan penuh dari mereka, Ternyata apa yang saya bayangkan justru sebaliknya. Anak-anak mulai protes dengan  keputusan saya untuk menghibahkan tanah. Satu kata yang sangat saya ingat ketika itu oleh anak-anak karena penolakan mereka ” Kenapa bapak baik sekali kepada Gampong (desa) sementara Gampong tidak pernah memikirkan dan memberikan apapun untuk bapak”

Saya sangat memahami penolakan anak-anak, mereka hanya berpikir jangka pendek dan untung dan rugi. Saya mencoba memberitahukan kepada mereka bahwa saya bukan memberikan tanah tersebut kepada gampong tetapi untuk saya sendiri yang akan saya bawa pulang sampai mati. Awalnya mereka bingung, apanya yang dibawa mati karena yang kita bawa mati hanya kain kafan yang lengket ditubuh.

Perlahan saya menjelaskan kepada mereka bahwa manfaat yang dirasakan oleh mayarakat akan menjadi ladang pahala bagi saya sebagai bekal dihari akhir. Itu maknanya bahwa harta dibawa mati, karena hartanya sudah dititipkan melalui gampong untuk dibangun IPAL yang manfaatnya akan dirasakan oleh masyarakat. Masyarakat akan terbebas dari penyakit karena pembuangan limbah sudah pada satu titik dan dipastikan tidak masuk kembali kedalam sumur. Masyarakat akan terbebas dari penyakit kulit dan mencret yang selama ini sering dialami, terutama anak-anak karena daya tahan tubuh yang belum kuat. Pahala yang mengalir kepada saya akan sama dengan mengalirnya air limbah dari masing-masing rumah kedalam IPAL.

Alhamdulillah, dengan pola komunikasi dua arah dan pendekatan keluarga yang saya lakukan akhirnya anak-anak saya menyetujui rencana saya  untuk menghibahkan lahan bagi pembangunan IPAL di gampong Ujung Pacu. Harapannya, IPAL ini benar-benar akan dimanfaatkan oleh masyarakat dengan sebaik-baiknya untuk masa depan generasi Ujung Pacu dan kelestarian lingkungan. Jadikanlah IPAL ini milik dan harta bersama yang akan terus dijaga dirawat dengan sebaik-baiknya. Artinya saya juga tidak sia-sia telah menghibahkan lahan untuk pembangunan IPAL.

Saya akan sangat berterimakasih jika nanti pembangunan IPAL juga dilakukan kembali didesa kami, karena permasalahan sanitasi tidak bisa diselesaikan dengan hanya 1 (satu) IPAL saja. Saya yakin, masyarakat akan terus memberikan dukungan untuk pelaksanaan program Sanimas IsDB pada masa akan datang, termaksud untuk menghibahkan lahan

Pesan saya, berikan yang terbaik dalam hidup ketika kita masih mampu agar hidup kita kedepan menjadi lebih berharga. Jangan takut memberi, karena dengan memberi sebenarnya kita sedang mempersiapkan untuk menerima yang lebih besar. 

0 Komentar

Tulis Komentar

Kirim Komentar