Informasi resmi terkait seleksi TFL tahun anggaran 2020 hanya dari web portal PLPBM  |   klik tautan berikut untuk memeriksa kelengkapan dokumen/data perihal seleksi TFL 2020  |   Silahkan download materi bimbingan teknis Sanitasi Perdesaan Padat Karya TA 2019 disini | Pengiriman Berita/Artikel/Kisah Sukses ke email publikasi.plpbm@gmail.com

Pelaksanaan Sandes di NTT, Sebagai Upaya Penurunan Angka Stunting

Pelaksanaan kegiatan Sanitasi Perdesaan Padat Karya tahun 2020 di Provinsi NTT merupakan yang terbanyak sebaran kabupatennya di Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan di 18 kabupaten, yang meliputi 180 desa sasaran dari total 22 kabupaten/kota yang ada di Provinsi NTT. Tahun sebelumnya, Sandes dilaksanakan di 3 kabupaten yaitu Kabupaten Ngada, Kabupaten Belu, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan. Banyaknya sebaran kegiatan Sandes di Provinsi NTT ini terkait dengan kondisi NTT sebagai provinsi dengan angka stunting tertinggi di Indonesia.

Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018 menunjukkan bahwa angka stunting di NTT tertinggi di Indonesia, sebesar 42,6%. Sedangkan angka stunting rata-rata nasional adalah 30,8%. Angka stunting di beberapa desa di NTT masih jauh di atas rata-rata provinsi. Bahkan, di beberapa desa, angka stunting yang terjadi antara (60 – 70)%.

Stunting atau gagal tumbuh adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan asupan gizi yang kurang dalam waktu lama. Hal ini disebabkan pemberian makanan tidak sesuai kebutuhan gizi, dan terjadi mulai janin hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) bayi. Prevalensi stunting meningkat pada ibu yang tidak tamat SD, rumah tidak sehat, tidak memiliki jamban sehat, tidak mencuci tangan dengan sabun, serta air minum tidak diolah. (Torlesse, Cronin, Sebayang, & Nandy, 2016)

Output utama kegiatan Sandes adalah terbangunnya prasarana sanitasi berupa bilik toilet, tangki septik dan resapan yang sesuai standar dalam rangka meningkatkan akses sanitasi layak bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Selain output prasarana sanitasi, dalam kegiatan ini juga dilakukan edukasi dan promosi kesehatan agar masyarakat di lokasi sasaran dapat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Tingginya angka stunting berkaitan erat dengan rendahnya tingkat akses masyarakat terhadap sanitasi layak. Capaian akses sanitasi layak nasional tahun 2018 adalah 74,58%, termasuk akses aman 7,42%. Artinya masih ada 25,42% setara dengan 67,36  juta jiwa (dari 265 juta jiwa) belum memiliki akses sanitasi layak dan 9,36% atau 24,8 juta jiwa diantaranya masih buang air besar sembarangan (BABS). Untuk Provinsi NTT, capaian akses sanitasi layak tahun 2018 baru mencapai 50,7% dengan rincian 40,98% di perdesaan dan 82.13% di perkotaan. Angka tersebut menunjukan masih tingginya masyarakat di NTT yang belum terakses sanitasi layak khususnya di daerah perdesaan.

Target RPJMN 2020-2024 untuk akses sanitasi adalah rumah tangga dengan akses sanitasi layak dan aman 90% layak (termasuk 20% aman). Sedangkan untuk Provinsi NTT sendiri capaian akses sanitasi ditargetkan sebesar 80% (termasuk akses aman 5%) pada tahun 2024.

Dengan demikian, kegiatan Sanitasi Perdesaan Padat Karya di Provinsi NTT boleh dikatakan dilaksanakan secara ‘masif’. Sehingga diharapkan mampu berkontribusi dalam menurunkan angka stunting, juga dapat meningkatakan akses masyarakat terhadap sanitasi layak dalam rangka mencapai target SDG’s.

Sesuai dengan target outcome sebesar 35 KK atau 125 jiwa per desa sasaran, maka target output melalui kegiatan Sandes Padat Karya T.A. 2020 ini dapat meningkatkan akses sanitasi masyarakat MBR di pedesaan minimal sebesar 180 desa x 35 = 6.300 KK atau setara minimal 22.500 jiwa. Peningkatan akses sanitasi di Provinsi NTT juga diharapkan dapat bersinergi dengan kegiatan dari sumber pendanaan lain seperti APBD, DAK Sanitasi, ADD dan swadaya masyarakat sehingga dapat secara signifikan membantu menurunkan angka stunting. (adv. Sandes reg. 4/pub.ibm)

0 Komentar

Tulis Komentar

Kirim Komentar