Informasi resmi terkait seleksi TFL tahun anggaran 2020 hanya dari web portal IBM SANITASI  |   klik tautan berikut untuk memeriksa kelengkapan dokumen/data perihal seleksi TFL 2020  |   Silahkan download materi bimbingan teknis Sanitasi Perdesaan Padat Karya TA 2019 disini | Pengiriman Berita/Artikel/Kisah Sukses ke email publikasi.plpbm@gmail.com

Meski Jembatan Putus, Harapan dan Semangat Aloware Tak Pernah Putus

NAGEKEO, plpbm.pu.go.id – Desa Alorawe, Kecamatan Boawae adalah salah satu desa sasaran pelaksanaan Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya TA 2020 di Kabupaten Nagekeo Provinsi Nusa Tenggara Timur. Nagekeo sendiri merupakan salah satu kabupaten dengan angka stunting yang cukup tinggi, yaitu 39,8% pada tahun 2018. Sementara di Desa Aloware, jumlah kasus stunting mencapai 14 kasus.

Desa Alorawe berjarak 40 km dari Mbay, ibukota Kabupaten Nagekeo. Dari Mbay menuju Desa Dheresia (desa terdekat dengan Alorawe) dapat ditempuh menggunakan kendaraan dengan lancar. Namun, perjalanan tidak bisa langsung menuju ke Alorawe karena terbentang Sungai Aesesa selebar 100 meter.  Berpuluh tahun masyarakat Desa Alorawe berada dalam keadaan ‘terisolir’ karena tak ada jembatan untuk menuju ke desa tersebut. Masyarakat terbiasa menyeberang sungai walaupun kedalaman sungai mencapai lebih dari 1 meter. Di musim penghujan, otomatis akses menuju ke Aloware tertutup.

Tahun 2018 sempat ada peristiwa yang menjadi viral, dimana masyarakat meggotong jenazah menyeberangi sungai dalam kondisi air sedang tinggi. Tahun 2019 ada juga berita ibu hamil harus berjuang melawan derasnya arus di sungai itu untuk mendapatkan perawatan di Puskesmas Boawae.

Atas inisiatif pemuda desa, dibangunlah jembatan bambu sepanjang 100 meter dengan ketinggian 4 meter di atas air secara swadaya. Jembatan tersebut dapat dilalui warga dengan jalan kaki atau sepeda motor. Akses keluar masuk Desa Aloware menjadi lebih mudah.

Masyarakat Alorawe secara antusias menyambut program Sandes Padat Karya di Desa Aloware. Tahap demi tahap dilaksanakan demi meningkatkan kualitas sanitasi masyarakat. Di Aloware, hampir semua dari 73 KK dengan 469 penduduk belum memiliki jamban yang layak. Delapan keluarga diantaranya masih BABS di sungai.

Pada tahap penyusunan Rencana Kerja Masyarakat (RKM) terjadi peristiwa yang tidak diharapkan yakni jembatan satu-satunya menuju Aloware terputus. Pada 26 Mei 2020, banjir bandang melanda Sungai Aesesa. Peristiwa ini memaksa masyarakat Alorawe kembali harus menyeberang Sungai Aesesa apabila akan ke Ibukota Kecamatan Boawae atau ke Mbay, Ibukota Nagekeo.

Kondisi ini tidak menyurutkan semangat masyarakat untuk melaksanakan tahap kegiatan Sandes. Walaupun dimungkinkan kesulitan akan menghadang terutama dalam pengangkutan material pada tahap konstruksi. Meski demikian, demi peningkatan kualitas sanitasi sekaligus upaya pencegahan stunting di Alorawe, semangat masyarakat Aloware tak pernah putus. (Adv. Sandes reg. 4/pub.ibm)

0 Komentar

Tulis Komentar

Kirim Komentar