Informasi resmi terkait seleksi TFL tahun anggaran 2021 hanya dari web portal IBM SANITASI  |   Pengiriman Berita/Artikel/Kisah Sukses ke email publikasi.plpbm@gmail.com

Menyusuri Sungai Batanghari Menuju Desa Penerima Manfaat Sandes

TANJUNG JABUNG TIMUR, plpbm.pu,go.id – Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya yang dilaksanakan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, tahun ini, lokasinya cukup berat dan ekstrem. Dari 10 lokasi, 8 lokasi harus ditempuh dengan perjalanan darat dan disambung dengan perjalanan menggunakan pompong/perahu kecil menyusuri Sungai Batanghari. Sebenarnya ada beberapa desa yang bisa ditempuh dengan jalur darat menggunakan sepeda motor, tetapi waktu tempuhnya cukup lama, bisa mencapai 8 jam dari ibukota kabupaten. Itulah alasan masyarakat lebih memilih menggunakan pompong karena waktu tempuhnya bisa lebih cepat, sekitar 4 - 5 jam. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) dalam melakukan pendampingan, agar lebih efektif maka TFL memilih menginap di desa daripada harus kembali ke basecamp di ibukota kabupaten. Berkendara naik motor menyusuri hutan disambung naik pompong. Meski penuh risiko, TFL tetap melaksanakan tugas penuh semangat pengabdian.

Salah satu desa yang berada di tepi Sungai Batanghari adalah Desa Sinar Kalimantan, Kecamatan Mendahara. Penduduk desa ini merupakan perpaduan masyarakat pendatang dari Sulawesi dan masyarakat setempat. Selama ini masyarakat Desa Sinar Kalimantan belum ada yang memiliki tangki septik sesuai standar teknis kesehatan, yaitu yang kedap air. Kebiasaan masyarakat ketika buang air besar yakni menggunakan WC cemplung. Istilah ini sebetulnya merupakan BAB yang dilakukan dari lantai rumah panggung, yang dibuat lubang dan langsung dibuang ke bawah sungai. Maka, tidak heran jika saat air sungai surut akan tampak kotoran tinja berserakan di bawah rumah-rumah panggung.

Lokasi yang berada di pinggir Sungai Batanghari menjadikan pengangkutan material konstruksi tidak bisa dilakukan secara langsung dari toko bahan bangunan di kota. Material harus melalui beberapa kali pengangkutan atau langsir, dari supplier diturunkan di tempat terdekat dengan dermaga pompong, kemudian material dimasukkan ke karung kecil, baru diangkut dengan kendaraan kecil dan dimasukkan ke pompong. Untuk lokasi pendampingan di dekat sungai, maka material bisa langsung diturunkan di dermaga. Namun untuk lokasi yang masih jauh, maka pengangkutan harus menunggu air pasang agar pompong bisa masuk ke dalam, dan itu pun hanya bisa satu kali dalam sehari saat air pasang. Hal ini membuat harga material sampai di lokasi menjadi cukup mahal. Beruntung, masyarakat setempat mau berswadaya agar target output 35 KK atau setara 125 jiwa terpenuhi. Swadaya masyarakat berupa gotong royong mengangkut karung-karung berisi material dari dermaga ke lokasi kegiatan, pengadaan dan pemasangan kayu untuk trucuk pondasi, dan menyediakan konsumsi untuk tukang dan pekerja.

Lokasi di daerah pasang surut juga membutuhkan konstruksi khusus, terutama untuk tangki septik dan bilik kloset. Saat air sedang pasang, ketinggian air bisa mencapai 1 - 1,5 meter, itulah alasan rumah-rumah di wilayah berupa rumah panggung. Dengan kondisi seperti ini, bak tangki septik dan bilik kloset tidak bisa diletakkan di atas tanah langsung namun harus menggunakan tiang penyangga dengan ketinggian menyesuaikan tinggi air saat pasang. Dengan kondisi tanah dasar berlumpur dan lembek, maka untuk dudukan pondasi footplate harus diperkuat dengan tiang pancang kayu/trucuk. Pengadaan dan pemancangan tiang kayu ini sesuai kesepakatan masyarakat menjadi tanggungjawab penerima manfaat.

Diharapkan, dengan pelaksanaan Program Sanitasi Perdesaan Padat Karya di pinggir Sungai Batanghari, menjadi awal mula dan percontohan untuk memperbaiki kualitas sanitasi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. (Adv. Sandes Reg. 1/pub.ibm)

0 Komentar

Tulis Komentar

Kirim Komentar