Informasi resmi terkait seleksi TFL tahun anggaran 2020 hanya dari web portal IBM SANITASI  |   klik tautan berikut untuk memeriksa kelengkapan dokumen/data perihal seleksi TFL 2020  |   Silahkan download materi bimbingan teknis Sanitasi Perdesaan Padat Karya TA 2019 disini | Pengiriman Berita/Artikel/Kisah Sukses ke email publikasi.plpbm@gmail.com

Limbah Rumah Tangga dalam Lingkungan Permukiman

LUWU TIMUR, plpbm.pu.go.id – Limbah rumah tangga memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan. Banyak orang tidak menyadari besarnya pengaruh limbah rumah tangga terhadap kehidupan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Menyalurkan limbah rumah tangga ke alam bebas tanpa melalui proses pengolahan, akan membawa dampak buruk yang berkepanjangan bagi keberlangsungan hidup ekosistem.

Daerah perkotaan dengan jumlah penduduk yang padat, memiliki permasalahan pada pembuangan limbah rumah tangga. Permukiman padat di perkotaan banyak yang tidak dilengkapi dengan sumur resapan untuk mengolah kembali air ataupun mengendapkan limbah cair rumah tangga yang dihasilkan dari berbagai aktivitas, seperti: mandi, buang air kecil, buang air besar, cuci tangan, cuci alat masak dan alat makan, cuci pakaian, cuci kendaraan ataupun aktivitas lainnya.

Banyak rumah secara sengaja mengalirkan buangan limbah tersebut ke selokan ataupun sungai yang ada disekitarnya. Hal ini mengakibatkan munculnya kerusakan lingkungan yang akan membawa dampak buruk lain pada kehidupan di masyarakat. Bila limbah dibuang langsung ke sungai, air sungai akan tercemar oleh zat kimia dan berbagai bakteri berbahaya yang akan menyebar lebih luas. Dengan begitu air sungai tidak lagi bisa dimanfaatkan sebagai sumber air bersih.

Berbagai dampak yang dihasilkan dari proses pembuangan air limbah rumah tangga ke alam bebas, antara lain;

Dampak dari Aspek Kesehatan, air limbah yang berasal toilet mengandung bakteri E. Coli yang dapat menyebabkan penyakit perut seperti typhus, diare, kolera. Bila tidak diolah secara memadai, limbah toilet bisa merembes ke dalam sumur (apalagi bila jarak antara sumur dan septic tank tidak sesuai baku mutu, seperti yang banyak ditemukan di permukiman padat). Bila air sumur yang sudah tercemar tersebut dimasak, bakteri akan mati, tetapi bakteri tetap dapat menyebar melalui proses lain, seperti; cuci piring, mandi, gosok gigi, wudhu dan kegiatan penggunaan air sumur lainnya tanpa melalui proses memasak.

Dampak dari Aspek Lingkungan, jenis limbah tertentu, seperti limbah cuci mengandung bahan kimia deterjen yang dapat mempengaruhi tingkat keasaman/pH tanah. Limbah dengan kandungan bahan kimia yang dibuang ke sungai dapat mematikan tumbuhan dan hewan tertentu yang hidup di sungai. Keadaan ini dapat merusak ekologi sungai secara keseluruhan dalam waktu yang berkelanjutan.

Air mengandung kadar oksigen, dan bisa berkurang saat ada komponen lain masuk ke dalamnya. Jika kadar oksigen di dalam air berkurang, maka kualitas air pun bisa dikatakan buruk. Di dalam air terdapat ekosistem yang harus dijaga keseimbangannya.

Jika air tercemar limbah seperti sampah ataupun bahan kimia, hal ini akan mengganggu makhluk hidup yang hidup di dalamnya. Tidak hanya hewan-hewan yang hidup di dalamnya, tumbuhan air pun akan terganggu produktivitasnya karena air berguna sebagai pembentuk protoplasma yang berperan dalam proses transpirasi dan fotosintesis.

Dampak dari Aspek Estetika, seperti halnya limbah padat, air limbah yang tidak diolah dapat menimbulkan masalah bau yang tidak sedap dan menghadirkan lingkungan yang tidak elok dipandang.

Terdapat berbagai cara yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah limbah cair rumah tangga, salah satunya dengan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). IPAL adalah sarana untuk mengolah limbah cair (limbah dari toilet, dari air cuci/kamar mandi). IPAL yang sangat dikenal oleh masyarakat luas adalah IPAL untuk limbah toilet atau lebih dikenal juga dengan sebutan septic tank.

Melalui Satuan Kerja Infrastruktur Berbasis Masyarakat, Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman, Kementerian PUPR, pemerintah membantu masyarakat berpenghasilan rendah dalam terbangunnya IPAL komunal di berbagai daerah padat perkotaan di Indonesia.

IPAL dibangun secara komunal yang mengakomodir 70 kepala keluarga atau setara dengan 350 jiwa dalam setiap hektarnya dan dioperasikan secara swadaya oleh masyarakat penerima manfaat. Komponen IPAL Komunal terdiri dari unit pengolah limbah, jaringan perpipaan (bak kontrol & lubang perawatan) dan sambungan pipa dari rumah ke rumah warga. Dengan begitu, IPAL yang terbangun akan memiliki fungsi:

  1. Membantu mitigasi persoalan gangguan kesehatan. Dengan adanya IPAL yang sesuai dengan standar, air bersih dapat terhindar dari bakteri dan kuman seperti E. Coli.
  2. Memitigasi persoalan lingkungan yang lebih buruk. Dengan adanya IPAL, sumber-sumber air bersih dapat terjaga kualitasnya sebagai bahan baku pengolahan air bersih selanjutnya.
  3. Dari segi estetika dan keindahan, IPAL membantu mengisolasi bau dan meminimalkan pemandangan yang tidak elok dilihat. Banyak IPAL yang sudah dibangun, dikreasikan sedemikian rupa dengan menghadirkan berbagai sarana lain yang bermanfaat bagi masyarakat dengan menyematkan warna-warni yang menarik. Pada akhirnya IPAL memiliki banyak fungsi yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan juga IPAL dapat mempercantik lingkungan. (Adv. Sanreg Wiltim/pub.ibm)

0 Komentar

Tulis Komentar

Kirim Komentar