Informasi resmi terkait seleksi TFL tahun anggaran 2020 hanya dari web portal IBM SANITASI  |   klik tautan berikut untuk memeriksa kelengkapan dokumen/data perihal seleksi TFL 2020  |   Silahkan download materi bimbingan teknis Sanitasi Perdesaan Padat Karya TA 2019 disini | Pengiriman Berita/Artikel/Kisah Sukses ke email publikasi.plpbm@gmail.com

Jerih Payah TFL Mamberamo Raya Berupaya Meningkatkan Progres

MAMBERAMO RAYA, plpbm.pu.go.id –Di tengah masa pandemi dan pemberlakukan karantina wilayah di Papua, pelaksanaan Sandes Padat Karya di Kabupaten Mamberamo Raya mengalami berbagai kendala. Terdapat tiga poin utama yang menjadi permasalahan capaian progress.

Pertama, kondisi dan status tanggap darurat COVID-19 di Provinsi Papua yang menyebabkan mobilisasi dan pendampingan pelaksanaan kegiatan menjadi pekerjaan yang berat bagi fasilitator pendamping. Kedua, kondisi medan menuju lokasi desa dampingan yang sulit dijangkau serta terbatasnya jaringan telekomunikasi di lokasi dampingan. Serta terakhir, akses transportasi menuju lokasi cukup sulit diperoleh pada saat kondisi normal, terlebih saat pandemi COVID-19, ketersediaan sarana transportasi menjadi semakin sulit.

Hal ini tidak menyurutkan semangat fasilitator yang bertugas di Kabupaten Mamberamo Raya. Ronald Nelson Krakuko, TFL Sandes yang ditugaskan untuk lokasi dampingan di Mamberamo Raya, berjuang agar dapat melaksanakan amanah besar yakni mendampingi dan memfasilitasi masyarakat dalam pelaksanaan program Sandes. Ia merupakan satu-satunya TFL yang sudah berada di lokasi dampingan.

Jerih payah Ronald bukan suatu hal yang mudah. Terlebih di masa pandemi, Pembatasan Sosial Berskala Besar diterapkan di seluruh Provinsi Papua. Hal ini mengakibatkan ia harus menempuh rute yang tidak biasa untuk menuju Kabupaten Mamberamo Raya. Total waktu yang ia habiskan di perjalanan yakni 3 hari perjalanan melalui jalur darat, melewati 3 kabupaten, serta 8 jam menggunakan perahu, melewati muara Sungai Biri. Sungai tersebut dikenal banyak hewan predator dan telah memakan korban jiwa, sehingga perjalanan cukup berisiko.

Hambatan yang ia alami masih berlanjut. Sesampainya di lokasi dampingan, hampir seluruh desa target penerima program merupakan desa-desa yang sangat sulit dijangkau dan sulit diakses karena terpisah oleh lautan maupun sungai. Hal ini menyebabkan akses hanya bisa ditempuh menggunakan perahu/speedboat dengan biaya yang tinggi. Oleh sebab itu, hal yang pertama dilakukan adalah berkoordinasi dengan pemerintah setempat untuk mendiskusikan solusi terbaik. Hasil yang diperoleh setelah berkoordinasi adalah kesepakatan perubahan lokasi penerima program.

Kondisi inilah yang menyebabkan jerih payah yang ia lakukan untuk melakukan sosialisasi di seluruh desa dampingan seorang diri baru dapat direalisasikan pada 1 desa, adapun 9 desa yang lain masih menunggu kepastian lokasi pengganti.

Di tengah segala keterbatasan, lelah sudah tentu dirasakan Ronald. Ia juga terkadang merasa buntu karena bekerja di lapangan seorang diri. Namun demikian, semangat dan komitmennya tidak akan kalah. Keberaniannya  untuk tetap memperjuangkan sanitasi di Kabupaten Mamberamo Raya, semoga akan berbuah manis. Meski dilakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit hasil progress yang tim fasilitator lakukan juga akan terlihat. “Small progress is still a progress”. (Adv. Sandes reg. 5/pub.ibm)

0 Komentar

Tulis Komentar

Kirim Komentar