Informasi resmi terkait seleksi TFL tahun anggaran 2020 hanya dari web portal PLPBM  |   klik tautan berikut untuk memeriksa kelengkapan dokumen/data perihal seleksi TFL 2020  |   Silahkan download materi bimbingan teknis Sanitasi Perdesaan Padat Karya TA 2019 disini | Pengiriman Berita/Artikel/Kisah Sukses ke email publikasi.plpbm@gmail.com

Desa Tambea Berkomitmen Menjalankan Sanitasi Perdesaan untuk Mewujudkan Sanitasi Layak Guna

Tantangan pembangunan sanitasi di Indonesia adalah masalah sosial budaya dan perilaku penduduk yang terbiasa buang air besar (BAB) di sembarang tempat, khususnya ke badan air yang juga digunakan untuk mencuci, mandi, dan kebutuhan higienis lainnya. Buruknya kondisi sanitasi merupakan salah satu penyebab kematian anak di bawah 3 tahun yaitu sebesar 19% atau sekitar 100.000 anak meninggal karena diare setiap tahunnya dan kerugian ekonomi diperkirakan sebesar 2,3% dari Produk Domestik Bruto.

Program Padat Karya Tunai (PKT) di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) terdiri dari program percepatan peningkatan tata guna air irigasi (P3TGAI), operasi dan pemeliharaan (OP) irigasi, Pengembangan Infrastruktur Sosial dan Ekonomi Wilayah (PISEW), Program Penyediaan Air Minum Berbasis Masayarakat (Pamsimas), Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas), Sanitasi Perdesaan (Sandes), pembangunan rumah swadaya maupun rusun dan rumah tapak untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), dan pemeliharaan rutin jalan. Program-program tersebut bertujuan untuk mendukung Nawa Cita, yakni meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, dan komitmen Indonesia melaksanakan Sustainable Development Goals (SDGs).

Melalui Sandes Padat Karya tahun anggaran (TA) 2019, sebanyak 500 jamban dan septic tank dibangun di Kabupaten Kolaka yang tersebar di seluruh kecamatan. Salah satunya dilakukan di Desa Tambea Kecamatan Pomalaa Kabupaten Kolaka yang difasilitasi oleh Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sulawesi Tenggara  melalui tenaga fasilitator teknis dan fasilitator lapangan. Alasan mengapa Desa Tambea merupakan salah satu desa yang menerima program Sandes Padat Karya TA 2019 yaitu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melebihi 65% dari jumlah KK dan data buang air besar sembarangan (BABS) mencapai 82% yang berdasarkan data profil Desa Tambea tahun 2019.[1] Selain itu, Desa Tambea Kecamatan Pomalaa Kabupaten Kolaka merupakan 600 desa prioritas di 60 kabupaten prioritas tahap kedua[2].

Untuk menentukan penerima manfaat, fasilitator lapangan bersama masyarakat dalam hal ini masing-masing kepala dusun melakukan pemetaan calon penerima manfaat. Dengan pemetaan ini dapat segera diketahui letak dan jumlah penyebaran calon penerima manfaat. Penentuan penerima manfaat dilakukan secara transparan, adil, dan merata melalui survei yang dilakukan oleh KSM dan fasilitator lapangan. Tidak hanya itu, dalam menentukan penerima manfaat prioritas, tim fasilitator menentukan dengan 5 kriteria yaitu MBR, Ibu Hamil, Anak di Bawah Lima Tahun (Batita), Batita stunting, dan Disabilitas.

 

Salah satu penerima manfaat di dusun I Desa Tambea yaitu memliki anak dibawah umur 3 tahun, ibu dalam keadaan mengandung, dan belum memiliki toilet dan septic tank. Sedangkan penerima manfaat dusun II memiliki bilik dengan toilet cubluk dan tidak memiliki anak dibawah 3 tahun namun ibu sedang hamil dan memiliki 1 anggota keluarga yang disabilitas. Kemudian penerima manfaat dusun III terdapat 3 kepala keluarga (KK) yang menempati rumah dengan kondisi yang sangat kompleks yaitu ada lansia, ibu hamil, dan 3 Batita. Kondisi yang lebih memprihatinkan yaitu toilet di rumah dengan kondisi sangat kompleks yaitu toilet tidak bisa digunakan karena air sering meluap atau naik ke atas. Ibu Rohania dalam kesempatan asesmen tim fasilitator lapangan menyampaikan keinginan terbangunnya fasilitas sanitasi di rumahnya.

“Kami perlu sekali ini pak toilet sama tangki septik karena toilet sudah tidak bisa digunakan. Kami berharap toiletnya cepet jadi biar bisa kami gunakan”, ujar Rohania.

Berdasarkan hasil survei dan asesmen, fasilitator lapangan memperoleh 50 penerima manfaat yang terdiri dari 30 penerima manfaat jamban beserta bilik dan tangki septik dan 20 penerima tangki septik dibangun di Desa Tambea yang tersebar pada 3 dusun. Penentuan 50 penerima manfaat ini juga sudah disesuaikan dengan ketersediaan anggaran yang ada. Adapun jumlah Ibu Hamil, Batita stunting, dan Disabilitas di Desa Tambea secara berurutan yaitu 21 orang, 11 orang, dan 9 orang. Saat ini Desa Tambea masih berproses dalam menyelesaikan semua toilet dan tangki septik yang sedang dibangun.

Pengetahuan tentang sanitasi merupakan salah satu dasar yang harus diperhatikan di lingkungan perdesaan dimana terbebas dari permasalahan kesehatan yang mengancam kualitas generasi penerusnya. Masalah mengubah kebiasaan memang tidak semudah membalikkan tangan. Sehingga diperlukan pendekatan yang terus menerus dan berkesinambungan. Komitmen dan semangat tokoh masyarakat Desa Tambea menjelaskan tentang fasilitas sanitasi yang akan terbangun dapat digunakan dengan maksimal dan berkelanjutan. Hal ini ditegaskan oleh Kepala Dusun I Sanre Bulu, Bapak Amiruddin bahwa Dusun I Sanre Bulu akan menggunakan fasilitas sanitasi yang terbangun dan merawatnya dengan baik. 

“Saya senang sekali ada program Sandes Padat Karya ini karena warga membutuhkan fasilitas sanitasi untuk jaga kesehatan keluarga. Mekanisme PKT membuat kami terlibat seperti bangun jamban dan bilik sendiri dan saya mengajak warga tidak BABS di hutan ataupun di pantai” tutur Amiruddin.

[1] Profil Desa Tambea tahun 2019.

[2] Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. 2018. 160 Kabupaten/Kota Prioritas dengan Masing-Masing 10 Desa untuk Penanganan Stunting (Kerdil).

0 Komentar

Tulis Komentar

Kirim Komentar