Informasi resmi terkait seleksi TFL tahun anggaran 2020 hanya dari web portal IBM SANITASI  |   klik tautan berikut untuk memeriksa kelengkapan dokumen/data perihal seleksi TFL 2020  |   Silahkan download materi bimbingan teknis Sanitasi Perdesaan Padat Karya TA 2019 disini | Pengiriman Berita/Artikel/Kisah Sukses ke email publikasi.plpbm@gmail.com

Dampak Banjir Bandang di Luwu Utara

LUWU UTARA, plpbm.pu.go.id – Musibah dan bencana bisa datang kapan saja dan dimana saja. Di saat pandemi COVID-19 yang berakhir, masyarakat Luwu Utara di enam kecamatan berbeda, yaitu Kecamatan Masamba, Sabbang, Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke,  dan Malangke Barat, dikejutkan dengan banjir bandang yang menerjang pada hari Senin tanggal 13 Juli 2020 pukul 19.00 WITA.

Curah hujan dengan intensitas tinggi menjadi penyebab meluapnya air dari Sungai Rongkong, Sungai Meli, dan Sungai Masamba yang juga mengakibatkan tanah longsor di beberapa desa di Kabupaten Luwu Utara, pada akhirnya menyebabkan banjir bandang hingga meluluhlantahkan ratusan rumah dan sarana prasarana umum serta mengakibatkan banyak korban luka-luka maupun meninggal dunia.

Rumah-rumah warga, lahan pertanian, fasilitas umum dan fasilitas sosial tertimbun material lumpur yang begitu pekat dengan ketinggian beragam, dan hanya menyisakan sampah-sampah yang terbawa arus. Selain merendam rumah warga, luapan air sungai juga merendam jalur trans Sulawesi–jalan nasional yang menghubungkan antara Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Luwu Timur, sehingga kendaraan pun dialihkan melalui jalan alternatif untuk sementara waktu.

Kecamatan Baebunta merupakan salah satu desa yang terdampak banjir bandang. Di wilayah ini terdapat lokasi pembangunan program Sanimas Reguler TA. 2020. Secara geografis, keberadaan Desa Baebunta diapit oleh dua sungai yang membelah Luwu Utara, yaitu Sungai Meli yang menjadi perbatasan Kecamatan Baebunta dengan Kecamatan Masamba dan Sungai Rongkong yang menjadi perbatasan dengan Kecamatan Padangsapa.

Banjir bandang yang memorak-porandakan beberapa wilayah di Luwu Utara tersebut, membuat warga Baebunta dibayang-bayangi rasa ketakutan akan datangnya banjir susulan yang bisa saja muncul dan menghampiri mereka sewaktu-waktu. Hal ini mengakibatkan kegiatan program Sanimas Reguler yang berada di kecamatan tersebut meliburkan aktivitasnya untuk sementara waktu. Segala daya upaya tim di lapangan bekerja bersama-sama memberikan semangat dan dukungan moril agar program Sanimas Reguler TA. 2020 di wilayah tersebut bisa terus berjalan.

Pasokan material alam, seperti; pasir, batu dan kerikil juga mengalami ketersendatan   karena sumber material diambil langsung dari Sungai Rongkong dan Sungai Meli yang menjadi tempat utama penambangan material alam di daerah tersebut. Hal lain yang dihadapi, ketersediaan alat pengangkut material alam yang lebih diprioritaskan untuk menangani bencana banjir bandang.

Secara tidak langsung, Program Sanimas Reguler yang berada di Kabupaten Luwu Timur juga terdampak bencana banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Luwu Utara. Pasokan kebutuhan material yang didatangkan langsung dari ibukota Provinsi Sulawesi Selatan mengalami keterlambatan untuk sampai ke daerah yang dituju.  Jalur utama (jalan provinsi) tidak bisa lagi dilewati kendaraan bermotor karena pekatnya lumpur yang menghalangi. Proses pekerjaan program Sanimas Reguler di Kabupaten Luwu Utara dan Luwu Timur mengalami sedikit keterlambatan progres dari rencana pencapaian yang sudah ditargetkan.  Semoga dengan semangat dan kekompakan untuk mewujudkan sanitasi lingkungan yang lebih baik akan dapat mengejar keterlambatan tersebut. (Adv. Sanreg Wiltim/pub.ibm)

0 Komentar

Tulis Komentar

Kirim Komentar