Informasi resmi terkait seleksi TFL tahun anggaran 2020 hanya dari web portal PLPBM  |   klik tautan berikut untuk memeriksa kelengkapan dokumen/data perihal seleksi TFL 2020  |   Silahkan download materi bimbingan teknis Sanitasi Perdesaan Padat Karya TA 2019 disini | Pengiriman Berita/Artikel/Kisah Sukses ke email publikasi.plpbm@gmail.com

46 KK Pemanfaat Desa Sisi Fatuberal Akan Miliki Akses Sanitasi Layak

Laporan hasil pemantauan status gizi (PSG) tahun 2017 menempatkan provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai provinsi dengan angka stunting terbesar di Indonesia. Salah satu kabupaten di NTT yang mempunyai angka stunting di atas 30% yaitu Kabupaten Belu dimana tahun 2019 angka stunting mencapai 38%. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yaitu tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Tidak hanya asupan gizi yang kurang, kasus stunting juga disebabkan oleh sanitasi buruk yang belum tersedia. Secara umum masyarakat perdesaan di Kabupaten Belu masih terdapat sebesar 49,28% yang belum memiliki sanitasi layak, termasuk di Desa Sisi Fatuberal.

Desa Sisi Fatuberal adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Lakmanen Selatan yang merupakan 600 desa prioritas di 60 kabupaten prioritas tahap kedua. Hal ini karena Desa Sisi Fatuberal adalah desa yang memilki angka stunting yang tinggi yaitu ditemukan kasus stunting pada 39 anak.

Sebagai upaya mencegah tingginya angka stunting di Desa Sisi Fatuberal Kabupaten Belu, pemerintah Indonesia melaksanakan program Sanitasi Perdesaan (Sandes) Padat Karya tahun anggaran (TA) 2019 yang difasilitasi oleh Ditjen Cipta Karya Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPLP) Satker Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Dalam melaksanakan program Sandes Padat Karya TA 2019 di Desa Sisi Fatuberal, tim pelaksana di lapangan sebagai penghubung penerima manfaat didampingi oleh tim advisory regional 3.

Tim advisory regional 3 melakukan kunjungan kedua di Kabupaten Majene pada hari Jumat, 25 Oktober 2019 dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan pembangunan toilet dan tangki septik di beberapa desa Kabupaten Belu, NTT. Kegiatan utama yang dilakukan tim advisory regional 3 yaitu mengunjungi desa yang memiliki angka stunting yang tinggi di Kabupaten Belu yaitu Desa Sisi Fatuberal. Desa ini dikunjungi karena terdapat penerima manfaat yang masuk dalam kategori prioritas yaitu adanya ibu hamil, anak dibawah usia tiga tahun (BATITA), anak terkena stunting, dan penyandang disabilitas.

Penentuan penerima manfaat dilakukan secara transparan, adil, dan merata melalui survei yang dilakukan oleh KSM dan fasilitator lapangan. Dalam menentukan penerima manfaat prioritas, tim fasilitator menentukan dengan 5 kriteria yaitu Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), Ibu Hamil, Batita, Batita stunting, dan Disabilitas.

Berdasarkan hasil rembuk warga, jumlah pemanfaat di Desa Sisi Fatuberal ada sebanyak 46 KK. Adapun jumlah Batita, Batita stunting, dan penyandang disabilitas di Desa Sisi Fatuberal secara berurutan yaitu 5 orang, 20 orang, dan 1 orang. Saat ini Desa Sisi Fatuberal masih berproses dalam menyelesaikan semua toilet dan tangki septik yang sedang dibangun.

Selama kunjungan, tim advisory regional 3 bertemu dengan Bapak Aloysius Tes yang merupakan penerima manfaat prioritas di Dusun Sisi A, Desa Sisi Fatuberal. Bapak Aloysius Tes terlihat sedang menggendong putra beliau yang sedang melihat aktivitas kunjungan tim advisory regional 3. Dalam kesempatan ini, tim advisory regional 3 bertanya kepada Bapak Aloysius mengenai manfaat yang dirasakan keluarga setelah fasilitas sanitasi dasar terbangun. “Saya senang pak karena toilet sudah dekat rumah”, ucap Bapak Aloysius. Bapak Aloysius berharap warga juga dapat merawat toilet ini dengan baik dan tidak buang air besar sembarangan (BABS). “Semoga toilet ini dapat saya jaga dan warga juga ikut merawat dan tidak BABS lagi”, tutur Bapak Aloysius.

“Program ini sangat membantu kami pak. Kami di pengurus KSM akan menjadi contoh untuk terus menggunakan toilet dan ikut menjaganya” jelas Maria Herkulana.

0 Komentar

Tulis Komentar

Kirim Komentar